Katakanlah
aku seorang anak yang baru akan mengenal dunia dan mencari jati diri. Sebut
saja namaku Lea, anak terakhir dari 3 bersaudara. Kedua kakakku sudah menikah
semua. Awalanya yang ada dibayanganku hidup itu indah dan indah. Apalagi saat akan
memasuki usia 17 tahun. Ayah dan ibu mulai memberikan kepercayaan, walau hanya
untuk masalah sepele. Ya, aku coba buat menjaga kepercayaan itu.
Aku merasa nyaman dan sangat di sayang dalam keluarga. Selain aku memiliki teman-teman yang baik. Dari segi materi cukuplah dan aku bersyukur dengan apa yang orangtua berikan. Ayah juga memanjakan tetapi ada batas-batasnya. Aku merasa awal menuju kedewasaan ini sangat sempurna dan indah.
Aku merasa nyaman dan sangat di sayang dalam keluarga. Selain aku memiliki teman-teman yang baik. Dari segi materi cukuplah dan aku bersyukur dengan apa yang orangtua berikan. Ayah juga memanjakan tetapi ada batas-batasnya. Aku merasa awal menuju kedewasaan ini sangat sempurna dan indah.
Ayah
dan ibu selalu mengajarkan untuk giat bekerja agar terlatih dan saat harus
mandiri, aku mampu untuk menyelesaikan masalah. Tapi maklumlah anak sekarang
sering keras kepala dan malas, termasuk aku. Jadi mereka harus memerlukan
kesabaran yang ekstra untuk menghadapi aku dan tak jarang mereka pun marah. Kalau
mereka marah pun aku kadang tak mau kalah untuk bicara. Hal kecil pun akan menjadi
masalah yang lebih besar. Kalau ayah kadang memilih untuk diam tapi kalau ibu
juga tidak mau kalah dari aku. Ya
mungkin itulah sifat wanita. Nanti ujungnya aku sama ibu marahan dan untuk
beberapa hari kita nggak saling menyapa,
tapi dari pengalaman gak ada yang lebih dari sehari. Hehehe.
Hari-hariku
terasa sangat menyenangkan. Senyum bahagia selalu menyelimuti wajah polosku. Hari
ini , hari Jumat, aku, ibu, ayah, dan kakak makan bersama. Di sela-sela makan kita ngobrol
seperti biasanya.
“Gimana
sekolah mu Lee ?” Tanya Ibu.
Lumayan
baik buk. Setiap ulangan pasti lulus, tetapi hanya saja kurang sempurna
nilainya. “Jawabku”
“Pertahanakan
Nak, tapi kamu juga harus sadar mungkin mempertahankan lebih sulit dibanding
memperoleh”. Kata Ayah.
“Iya,
pertahankan Lee. Ibu sama Ayah cuma pengen liat kamu jadi orang sukses”. Kata
Ibu
“Iya,
iya... percaya sama Lea deh. Lea pergi sekolah dulu”. Kataku.
Baru
saja memulai pelajaran hari ini,aku mendapat sms dari kakakku. aku buka dan tak bisa menyembunyikan rasa keterkejutanku.
Ayah mengalami kecelakaan. Aku baca sms itu dengan pikiran yang beraduk-aduk di
otak. Aku pun diizinkan pulang oleh guruku. Teman sebangkuku menawarkan diri
untuk mengantarkan pulang. Tapi aku tolak, aku yakinkan dia, aku bisa tenang
kok. Aku cuma minta doa kepada teman-teman semoga ayahku cepat sembuh.
Di
jalan, pikiranku sudah tak bisa dikendalikan. Sesampainya di rumah, kakakku
menceritakan semuanya. Ayah tadi kecelakaan saat akan berangkat ke kantor.
Sekarang ayah di bawa ke Rumah Sakit terbesar di Kota Jogja. Dari situ aku dapat menyimpulkan kalau
ayahku dalam keadaan parah. Hatiku makin menciut, rasa takut merajai
perasaanku. Aku hanya bisa menangis pilu. Kakakku mencoba menguatkan aku, tapi
dia sendiri tak bisa menyembunyikan rasa takut yang mengoyak hatinya.
.
Pertama kali aku melihat ayah di ruang isolasi , sungguh aku tidak kuasa.
Perasaan takut dan sedih berkecambuk dihatiku. Saat itu ayah belum sadarkan diri,
masih dibantu dengan alat pernafasan. Di pasang juga alat pencatat denyut
jantung. Dua hari pertama ayah tidak sadarkan diri. Hari ketiga ayah mulai
sadarkan diri dan alat pencatat denyut jantung dilepas. Ya, aku dan keluarga
merasa lebih tenang. Walaupun kondisi ayah saat itu belum stabil. Diagnosa dokter pun keluar, ayah menderita
patah tulang tangan kanan dan amnesia ringan yang tak perlu di operasi karena
tidak ada darah yang membeku di otak, jadi cukup dengan obat saja.
Delapan
hari ayah di ruang isolasi, delapan hari juga perasaanku dan keluarga
seperti diombang-ambingkan. Apalagi kondisi ayah sempat drop saat di ruang Isolasi. Di kamar isolasi itu ada 5 pasien, 2 diantaranya meninggal dunia. Tuhan rasanya hatiku
semakin hancur. Aku dan keluarga hanya bisa bermunajat kepada Sang Pencipta,
semoga ayah diberi kekuatan dan kesembuhan.
Hari
ke sembilan ayah di pindahkan ke bangsal. Sujud syukur Tuhan. Aku dan
keluarga seperti mendapat sebuah anugrah yang besar. Ayah sudah berhasil
melalui ujianMu. Walaupun ayah belum bisa mengenali siapa dirinya, siapa aku,
kakakku, ibu dan keluargaku yang lain. Dokter juga bilang untuk memulihkan
ingatannya dibutuhkan waktu lama. Dokter menyarankan agar keluargaku sabar merawat
ayah dan jangan membuat ayah emosi karena kalau emosinya tidak terkendali ayah
bisa drop. Hari ke 16 ayahku diijinkan pulang, rasanya beban di kepala hilang.
Di
rumah, aku, ibu dan kakak harus merawat ayah dengan extra hati-hati dan sabar.
Ayah sering hilang kendali jadi dia melakukan hal yang aneh-aneh. Tapi kami
merawat ayah dengan ikhlas. Kadang juga kelakuan ayah bikin ketawa tapi juga
mudah banget marah. Namanya juga otaknya belum stabil. Ayah benar-benar
istirahat total. Setelah 1 bulan pulang dari Rumah Sakit ayah baru masuk kerja. Itu pun
diantar jemput. Ayah sudah tidak boleh naik motor lagi.
Tiga
bulan berlalu, ayahku maksa untuk naik motor. Ya, kami mengijinkan tapi hanya
di sekitar rumah saja. Pernah sekali ayah ke kantor naik motor sendiri,
tetapi kami yang di rumah malah khawatir. Lalu ibu memberi pengertian kalau
ayah hanya boleh naik motor di sekitar rumah saja. Ayah pun mengerti.
Aku
dan keluarga banyak mendapatkan pelajaran dari musibah itu. Aku pun mulai
sadar, hidup itu adalah sebuah pembelajaran untuk lebih dewasa dan bisa bersikap. Apalagi aku akan
memasuki usia 17tahun, kata orang itu usia ke arah dewasa. Adalah sebuah
kesalahan kalau hidup hanya menginginkan kebahagiaan dan kemudahan. Kehidupan
keluargaku pun kembali seperti biasanya. Dan kebahagiaan keluargaku pun kembali
lagi setelah mengalami ujian.
Tapi
kebahagian itu terasa singkat. Bulan april pun menjadi kelabu. Mungkin tuhan
ingin meningkatkan ketabahan keluargaku. Ayah mengalami kecelakaan lagi didekat
rumah. Saat itu juga aku dan kakak langsung ke TKP. Tapi ayah sudah di bawa
ke salah satu Rumah Sakit. Ditempat itu aku merasa disayat lebih tajam lagi. Apalagi aku
dengar ayahku ditabrak mobil, dan mobilnya melarikan diri. Ahh, seperti tak ada
rasa dalam hatiku. Hanya hambar. Lalu aku pulang ke rumah dan kakakku diajak Om ke
Rumah Sakit. Setelah itu aku juga di ajak sepupuku ke Rumah Sakit sedangkan Ibu tetap di rumah bersama saudara-saudaraku.
Sampai
di Rumah Sakit, ayah sudah berada di IGD. Mataku tidak berani melihat keadaannya
meskipun hatiku ingin. Dokter pun menyarankan ayahku harus di bawa ke Rumah Sakit yang
lebih lengkap alat medisnya karena ayah mengalami pendarahan yang hebat.
Akhirnya ayah dibawa ke salah satu Rumah Sakit tempat beliau pernah dirawat.
Aku merasa hatiku seperti dibanting. Saat
aku baru akan bangun, ternyata aku terjatuh lagi. Sesampainya di Rumah Sakit,
ayah langsung dibawa ke IGD. Aku, tante, kakak menunggu didepan. Omku di
dalam diberi tau sama dokternya kalo jantung ayahku sudah tidak berfungsi,
dokter tidak bisa melakukan scan karena tanpa bantuan alat pernafasan ayah
tidak bisa bernafas. Padahal untuk melakukan scan, alat pernafasan harus
dilepas. Dokter belum berani untuk mengambil resiko tanpa ada persetujuan dari
keluarga.
Omku
keluar dan menceriatakan semua. Suasana pun meledak. Tulangku pun seperti luruh, kaki tak mampu berdiri menopang tubuh. Aku dan kakakku tidak bisa menahan kesedihan, tangis pun
meledak. Tubuhku seperti tak berdaya, tak bertenaga.
Jalan keluarnya, keluargaku
memutuskan untuk menunggu ayahku bisa bernafas baru dilakukan scan. Jadi dokter
pun belum bisa mendiagnosa ataupun melakukan pengobatan. Ayah
dimasukan ruang isolasi dan dipasang alat pernafasan dan pencatat denyut
jantung. Dua hari di rawat ayahku tetap belum sadar, tapi keluargaku juga tidak
menyerah. Tirakat dan usaha dilakukan keluargaku dengan total.
Hari ketiga setelah ayah dirawat sekitar pukul 15.00 WIB
keluargaku di panggil perawat. Awalnya aku nggak berani masuk, ibu dan kakak
tertuaku masuk, aku di luar sama tante. Lalu aku di ajak masuk sama tante. Di dalam suasana sangat buruk, aku tak kuasa untuk melihat ayahku.
Bu,
ini kan udah kedua kalinya bapak seperti ini, kemarin alhamdulilah bapak masih
diberi kesempatan. Sekarang denyut jantung bapak sudah tidak ada, bapak bisa
nafas itu hanya karena alat bantuan. Apa Ibu tidak kasihan sama bapak. Kami
juga sudah melakukan yang terbaik buk, tapi Tuhan berkehendak lain. “Kata
Dokter”. Kakak dan Ibuku menjawab “Iya, Dok”. Kami sudah ikhlas.
Dokter lalu melepas semua alat bantu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku tak bisa terdeskripsikan. Ibu dan kakaku pun terpukul hebat. Mereka menangis. Tuhan seperti tak adil dengan takdirku. Airmata terus mengalir, nafasku seperti tertahan saat melihat ayahku. Aku peluk ayahku dan ku ucap "innalilahi". Ya tuhan aku tidak percaya dengan semua ini. Aku ingin lari dari kenyataan ini. Ayahk yang ada di depan mata kepalaku telah menjadi sesosok jenazah.
Dokter lalu melepas semua alat bantu, aku tak bisa berkata apa-apa. Perasaanku tak bisa terdeskripsikan. Ibu dan kakaku pun terpukul hebat. Mereka menangis. Tuhan seperti tak adil dengan takdirku. Airmata terus mengalir, nafasku seperti tertahan saat melihat ayahku. Aku peluk ayahku dan ku ucap "innalilahi". Ya tuhan aku tidak percaya dengan semua ini. Aku ingin lari dari kenyataan ini. Ayahk yang ada di depan mata kepalaku telah menjadi sesosok jenazah.
Hari
ini aku melihat darah dagingku terbungkus kain putih suci. Siap untuk
dikembalikan kepada yang memiliki dan terkubur menyatu dengan tanah. Tuhan beri
tempat yang terbaik untuk ayahku ampuni segala dosa beliau. Aku belum bisa
menjadi apa yang diharapkan ayah. Maafkan aku ayah. Tuhan terlalu cepat mengambil
ayah. Saat aku membutuhakan sosok ayah untuk mengajarkan aku tentang hidup dan perjuangan tetapi kau telah menutup mata untuk selamanya. Ini pelajaran paling berharga dan paling berat saat usiaku masih 17 tahun.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar